Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Cuci Tangan
Pakai Sabun (CTPS)
World Health Organization (WHO) menyatakan, setiap tahunnya sekitar 2,2 juta orang di
negara-negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang aman, sanitasi dan hygiene yang buruk. Sementara itu,
terdapat bukti bahwa pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air yang aman, system pembuangan sampah, serta pendidikan hygiene dapat menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakit-penyakit lainnya sebanyak 26% (Maimun, Dupai, & Erawan, 2017)
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan bahwa insiden dan period prevalen
diare di Indonesia adalah 3,5% dan 7%. Berdasarkan
data dari 33 provinsi di Indonesia terdapat 5
provinsi dengan insiden dan period prevalen
diare tertinggi yaitu Papua 6,3% dan
14,7%, Sulawesi Selatan 5,2% dan 10,2%, Aceh
5,0% dan 9,3%, Sulawesi Barat 4,7% dan 10,1%,
dan Sulawesi Tengah 4,4% dan 8,8% (Maimun et al., 2017)
Kondisi ini harus segera diantisipasi dengan meningkatkan pola hidup sehat melalui PHBS. Upaya sosialisasi dapat dilakukan dengan pengenalan konsep PHBS mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan. Upaya sosialisasi dapat dilakukan
dengan pengenalan konsep PHBS mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan perlu ditanamkan sejak usia sedini mungkin pada anak usia sekolah. Kesehatan pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi hasil belajar yang optimal sehingga anak akan berprestasi serta dapat melakukan
kegiatan
social (Maimun et al., 2017)
Cakupan
PHBS rendah dalam pesanan rumah tangga disebabkan
oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
PHBS, fasilitas sanitasi perumahan rendah, dan
kurangnya konseling yang diberikan oleh kesehatan pekerja,
terutama petugas promosi kesehatan, dengan
demikian mempengaruhi perilaku masyarakat itu kurang
peduli dengan kesehatan lingkungan sehingga dapat
berdampak pada kehidupan rumah tangga (Carter-pokras, 2010)
Perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah salah satu upaya untuk mengubah komunitas
perilaku untuk mendukung peningkatan status kesehatan, yang dilakukan melalui
Program pelatihan PHBS. Program ini sudah telah dipegang oleh Departemen
Kesehatan sejak 1996. Meskipun pengembangan PHBS program telah berjalan untuk
waktu yang lama dan pemerintah terus bersosialisasi PHBS tetapi angka
pencapaiannya masih minimal. Ada 10 indikator PHBS, seperti persalinan yang
dibantu oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif bayi, beratnya bayi dan
balita setiap bulan, mengkonsumsi air bersih, cuci tangan dengan air bersih dan
sabun, menggunakan toilet sehat, memberantas jentik nyamuk di rumah, makan buah
- buahan dan sayuran setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan
tidak merokok di dalam rumah (Jayadipraja, Prasetya, Ode, & Yuliana, 2018)
Perilaku Hidup Bersih dan sehat adalah
keseluruhan tindakan secara sadar yang merupakan hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat mampu secara mandiri
dalam bidang kesehatan serta turut berpartisipasi dalam kegiatan kesehatan masyarakat
(Kemenkes RI, 2014).
Dimulai sejak tahun 2008,
PBB menetapkan tanggal 15 Oktober diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Pakai
Sabun Sedunia (HCTPS). Penderitaan karena sakit diare dapat dikurangi dengan
melakukan cuci tangan pakai sabun, Di mana menurut penelitian dapat mengurangi
angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen.
Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) merupakan langkah kecil untuk memulai hidup sehat. Perilaku sederhana
ini bisa melindungi peserta didik dari penyakit seperti diare dan saluran
pernapasan. Untuk itu Kemendikbud khusus Direktorat PSD menghimbau sekolah
dasar agar melakukan kegiatan bersama cuci tangan pakai sabun dengan air
mengalir setelah melakukan beberapa kegiatan di sekolah. Kegiatan CTPS dapat
dikombinasikan dengan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya antara lain
mengkonsumsi makanan sehat bersama, membersihkan sampah di lingkungan sekolah,
memberantas jentik nyamuk serta melakukan kerja bakti bersama warga sekolah.
Berdasarkan data, Puskesmas Poasia dibagi menjadi 4 kelurahan dengan masing-masing sekolah dasar yaitu kelurahan Anduonohu dengan jumlah sekolah dasar 3 unit dan memiliki SD ber-PHBS sebesar 66.66%, kelurahan Rahandouna dengan jumlah sekolah dasar 7 unit dan memiliki SD berPHBS sebesar 28.57%, kelurahan Matabulu dengan jumlah sekolah dasar 1 unit dan memiliki SD berPHBS sebesar
100%, dan kelurahan Anggoeya dengan jumlah sekolah dasar 4 unit dan memiliki SD berPHBS terendah sebesar 25.00%. Salah
satu SD yang berada di keluruhan Anggoeya.
Observasi awal yang dilakukan peneliti memberikan sedikit gambaran
perilaku murid-murid SD Negeri 12 poasia. Ketika jajan murid-murid tidak
mencuci tangan sebelum makan, dan ada murid-murid yang membuang bungkusan
jajanannya bukan di tempat sampah yang telah disediakan. Selain itu, ketika
sedang bermain mereka memegang tembok, memegang tehel, memegang tangan teman,
namun beberapa saat kemudian mereka membeli jajanan dan langsung memakannya
tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mereka hanya membersihkan tangan mereka
di baju (Maimun et al., 2017)
Menurut saya program CTPS di
sekolah tersebut belum berjalan dengan baik. Karena para siswa/siswi masih
minim pengetahuan tentang cuci tangan pakai sabun, dan masih kurangnya
sosialisasi atau penyuluhan tentang CTPS di sekolah tersebut. Lagipula Sarana
CTPS tidak harus terbuat dari material yang mahal, dari bahan yang tersedia di
sekitar sekolah seperti jerigen bekas, botol bekas atau ember juga dapat
dijadikan tempat cuci tangan.
Mencuci tangan bukan sekedar
untuk menghilangkan kuman tetapi mencuci tangan bertujuan lebih dari itu, yaitu
dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun cuci tangan juga masih
dianggap sepeleh oleh sebagian masyarakat. Upaya meningkatkan kualitas
kehidupan anak-anak bukan hanya urusan orang tua. Kita pun sebagai ahli
kesehatan masyarakat harus dapat berperan serta dalam hal tersebut.
Kekurangannya adalah jika
kebiasaan anak usia sekolah yang tidak melakukan cuci tangan sebelum makan dapat
menyebabkan anak usia sekolah mudah terserang berbagai penyakit, terutama yang
berhubungan dengan perut, seperti diare, tipus, cacingan, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Carter-pokras, O. (2010). What Is a “ Health Disparity ”?, 117(January
2000), 426–434.
Jayadipraja, E. A., Prasetya, F., Ode, W., & Yuliana, S.
(2018). FAMILY CLEAN AND HEALTHY LIVING BEHAVIOR AND ITS DETERMINANT FACTORS IN
THE VILLAGE OF LABUNIA , REGENCY OF MUNA , SOUTHEAST, 4(1), 39–45.
Maimun, D. N., Dupai, L., & Erawan, P. E. M. (2017). Jimkesmas 1, 2(5),
1–9.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar