Senin, 16 Desember 2019

Program Promosi Kesehatan



Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

World Health Organization (WHO) menyatakan, setiap tahunnya sekitar 2,2 juta orang di negara-negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang aman, sanitasi dan hygiene yang buruk. Sementara itu, terdapat bukti bahwa pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air yang aman, system pembuangan sampah, serta pendidikan hygiene dapat menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakit-penyakit lainnya sebanyak 26% (Maimun, Dupai, & Erawan, 2017)

Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan bahwa insiden dan period prevalen diare di Indonesia adalah 3,5% dan 7%. Berdasarkan data dari 33 provinsi di Indonesia terdapat 5 provinsi dengan insiden dan period prevalen diare tertinggi yaitu Papua 6,3% dan 14,7%, Sulawesi Selatan 5,2% dan 10,2%, Aceh 5,0% dan 9,3%, Sulawesi Barat 4,7% dan 10,1%, dan Sulawesi Tengah 4,4% dan 8,8% (Maimun et al., 2017)

Kondisi ini harus segera diantisipasi dengan meningkatkan pola hidup sehat melalui PHBS. Upaya sosialisasi dapat dilakukan dengan pengenalan konsep PHBS mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan. Upaya sosialisasi dapat dilakukan dengan pengenalan konsep PHBS mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan perlu ditanamkan sejak usia sedini mungkin pada anak usia sekolah. Kesehatan pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi hasil belajar yang optimal sehingga anak akan berprestasi serta dapat melakukan
kegiatan social (Maimun et al., 2017)

Cakupan PHBS rendah dalam pesanan rumah tangga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang PHBS, fasilitas sanitasi perumahan rendah, dan kurangnya konseling yang diberikan oleh kesehatan pekerja, terutama petugas promosi kesehatan, dengan demikian mempengaruhi perilaku masyarakat itu kurang peduli dengan kesehatan lingkungan sehingga dapat berdampak pada kehidupan rumah tangga (Carter-pokras, 2010)

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah salah satu upaya untuk mengubah komunitas perilaku untuk mendukung peningkatan status kesehatan, yang dilakukan melalui Program pelatihan PHBS. Program ini sudah telah dipegang oleh Departemen Kesehatan sejak 1996. Meskipun pengembangan PHBS program telah berjalan untuk waktu yang lama dan pemerintah terus bersosialisasi PHBS tetapi angka pencapaiannya masih minimal. Ada 10 indikator PHBS, seperti persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif bayi, beratnya bayi dan balita setiap bulan, mengkonsumsi air bersih, cuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan toilet sehat, memberantas jentik nyamuk di rumah, makan buah - buahan dan sayuran setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah (Jayadipraja, Prasetya, Ode, & Yuliana, 2018)

Perilaku Hidup Bersih dan sehat adalah keseluruhan tindakan secara sadar yang merupakan hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat mampu secara mandiri dalam bidang kesehatan serta turut berpartisipasi dalam kegiatan kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2014).
Dimulai sejak tahun 2008, PBB menetapkan tanggal 15 Oktober diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). Penderitaan karena sakit diare dapat dikurangi dengan melakukan cuci tangan pakai sabun, Di mana menurut penelitian dapat mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen.
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan langkah kecil untuk memulai hidup sehat. Perilaku sederhana ini bisa melindungi peserta didik dari penyakit seperti diare dan saluran pernapasan. Untuk itu Kemendikbud khusus Direktorat PSD menghimbau sekolah dasar agar melakukan kegiatan bersama cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir setelah melakukan beberapa kegiatan di sekolah. Kegiatan CTPS dapat dikombinasikan dengan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya antara lain mengkonsumsi makanan sehat bersama, membersihkan sampah di lingkungan sekolah, memberantas jentik nyamuk serta melakukan kerja bakti bersama warga sekolah.
Berdasarkan data, Puskesmas Poasia dibagi menjadi 4 kelurahan dengan masing-masing sekolah dasar yaitu kelurahan Anduonohu dengan jumlah sekolah dasar 3 unit dan memiliki SD ber-PHBS sebesar 66.66%, kelurahan Rahandouna dengan jumlah sekolah dasar 7 unit dan memiliki SD berPHBS sebesar 28.57%, kelurahan Matabulu dengan jumlah sekolah dasar 1 unit dan memiliki SD berPHBS sebesar 100%, dan kelurahan Anggoeya dengan jumlah sekolah dasar 4 unit dan memiliki SD berPHBS terendah sebesar 25.00%. Salah satu SD yang berada di keluruhan Anggoeya.
Observasi awal yang dilakukan peneliti memberikan sedikit gambaran perilaku murid-murid SD Negeri 12 poasia. Ketika jajan murid-murid tidak mencuci tangan sebelum makan, dan ada murid-murid yang membuang bungkusan jajanannya bukan di tempat sampah yang telah disediakan. Selain itu, ketika sedang bermain mereka memegang tembok, memegang tehel, memegang tangan teman, namun beberapa saat kemudian mereka membeli jajanan dan langsung memakannya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mereka hanya membersihkan tangan mereka di baju (Maimun et al., 2017)

Menurut saya program CTPS di sekolah tersebut belum berjalan dengan baik. Karena para siswa/siswi masih minim pengetahuan tentang cuci tangan pakai sabun, dan masih kurangnya sosialisasi atau penyuluhan tentang CTPS di sekolah tersebut. Lagipula Sarana CTPS tidak harus terbuat dari material yang mahal, dari bahan yang tersedia di sekitar sekolah seperti jerigen bekas, botol bekas atau ember juga dapat dijadikan tempat cuci tangan.
Mencuci tangan bukan sekedar untuk menghilangkan kuman tetapi mencuci tangan bertujuan lebih dari itu, yaitu dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun cuci tangan juga masih dianggap sepeleh oleh sebagian masyarakat. Upaya meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak bukan hanya urusan orang tua. Kita pun sebagai ahli kesehatan masyarakat harus dapat berperan serta dalam hal tersebut.
Kekurangannya adalah jika kebiasaan anak usia sekolah yang tidak melakukan cuci tangan sebelum makan dapat menyebabkan anak usia sekolah mudah terserang berbagai penyakit, terutama yang berhubungan dengan perut, seperti diare, tipus, cacingan, dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA
Carter-pokras, O. (2010). What Is a “ Health Disparity ”?, 117(January 2000), 426–434.
Jayadipraja, E. A., Prasetya, F., Ode, W., & Yuliana, S. (2018). FAMILY CLEAN AND HEALTHY LIVING BEHAVIOR AND ITS DETERMINANT FACTORS IN THE VILLAGE OF LABUNIA , REGENCY OF MUNA , SOUTHEAST, 4(1), 39–45.
Maimun, D. N., Dupai, L., & Erawan, P. E. M. (2017). Jimkesmas 1, 2(5), 1–9.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Promosi Kesehatan

Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) World Health Organization (WHO) menyatakan, setiap tahunnya sekita...